Pengertian Reksadana Saham: Beri Return Terbaik, Tapi Risiko Besar

Reksadana terbaik salah satu pilihan investasi yang menjanjikan hasil paling tinggi, dibandingkan dengan instrumen investasi lainnya dan menjadi instrumen investasi pilihan bagi banyak orang.

Bukan hanya bagi mereka yang telah lama berkecimpung di dalam kegiatan investasi, bahkan para pemula juga kerap menjadikan reksadana saham sebagai pilihan, mengingat investasi yang satu ini memang menjanjikan keuntungan yang besar.

Namun selain keuntungan, sejumlah risiko yang terkandung di dalam reksadana tentu patut diwaspadai, sebab semakin besar potensi keuntungan dari sebuah investasi, maka tentu akan semakin besar pula risiko yang terkandung di dalamnya. Berbagai risiko inilah yang harus dipahami sejak awal, agar investor dapat mengatasi berbagai gejolak yang mungkin saja terjadi di dalam reksadana saham miliknya.

Jangan sampai perhitungan keuntungan yang besar, tidak diimbangi dengan antisipasi yang baik terhadap berbagai risiko yang mungkin datang, sebab hal ini bisa saja membuat investasi tersebut tidak berhasil.

Komposisi Reksadana Saham

Meski portfolio reksadana saham adalah saham, namun bukan berarti semua dana investasi yang disetorkan oleh investor akan dialokasikan ke dalam investasi saham secara penuh. Hal ini merupakan sebuah bentuk antisipasi, agar jika sewaktu-waktu investor ingin mencairkan unitnya, maka hal tersebut bisa dilakukan dengan segera. Selain pertimbangan tersebut, pembagian dana ini juga penting dilakukan untuk mengatasi nilai portfolio yang bisa saja sedang buruk bersamaan dengan waktu pencairan yang dilakukan oleh investor.

Pada umumnya, pembagian komposisi saham ini bisa dilihat secara jelas di dalam prospektus. Saham yang akan dibeli oleh manajer investasi bisa saja berbeda-beda, tergantung pada kebijakan yang diambil oleh manajer investasi yang bersangkutan.

Namun, setiap jenis jenis investasi reksadana saham, pasti akan dibagi dalam komposisi saham dan juga sejumlah dana tunai, seperti tabungan atau deposito. Misalnya: penempatan dana investasi akan dilakukan 80% untuk saham dan 20% dalam bentuk cash (tabungan atau deposito).

Return vs Risiko

Return tentu akan menjadi alasan terbesar bagi investor untuk melakukan investasi di dalam reksadana saham. Jumlah keuntungan yang dijanjikan oleh investasi ini memang menjadi yang tertinggi, jika dibandingkan dengan instrumen investasi lainnya. Namun pada dasarnya, return yang tinggi ini juga diikuti dengan sejumlah risiko yang juga besar, dan hal ini tentu patut dipahami dengan baik sejak awal oleh para investor.

Meski memiliki potensi keuntungan yang sangat besar, reksadana saham juga memiliki fluktuasi keuntungan yang juga tinggi. Bisa saja dalam kurun waktu yang cukup lama saham akan mengalami kenaikan return, namun kemudian secara tiba-tiba nilainya juga akan merosot dengan tajam. Dalam beberapa kejadian, kondisi ekonomi yang buruk seperti tahun 1998 tentu akan membuat nilai saham merosot dengan sangat tajam.


Meski memiliki potensi untuk pulih kembali dan mengalami kenaikan nilai yang cukup baik, namun hal ini tidak terjadi dalam kurun waktu yang singkat. Artinya, bisa saja pemulihan ini terjadi dan membutuhkan waktu yang cukup panjang, misalnya 1 atau bahkan 3 tahun berikutnya.

Jika menilik pada masalah di atas, maka sudah jelas bahwa reksadana saham bukanlah sebuah investasi jangka pendek, meskipun dalam satu atau dua tahun saja investasi ini sudah memberikan keuntungan yang cukup baik. Namun tingginya risiko dan juga fluktuasi harga yang bisa terjadi setiap saat merupakan hal yang wajib diwaspadai dan diantisipasi dengan baik sejak awal.

Artinya, reksadana saham bukanlah investasi yang selalu aman untuk Anda cairkan setiap waktu, terutama ketika pasar sedang tidak menentu, sebab hal ini bisa saja menimbulkan sejumlah kerugian yang cukup besar. Untuk itu, sangat penting bagi investor untuk selalu menyesuaikan tujuan keuangannya dengan pemilihan instrumen investasi Indonesia ini sejak awal.


Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terkini